Selasa, 20 Mei 2014

PUISI CINTA

                                              SURAT KEPADA SAUDARAKU




Bendungan, 2004


wahai saudaraku
ku tulis bait ini untukmu
ku tulis dengan tinta cinta
berpenakan perasaan jiwa
untuk menyapa hatimu
sekedar nostalgia tuk memberi tahu
wahai saudaraku
hari ini kita membuat kursi kekuasaan
tak peduli siang dan malam
berpeluhkan darah
kayunya dari nyawa kita
kursi itu kini telah usai
indah nan megah bentuknya
mereka dengan bangga duduk di atasnya
mereka duduk dalam taman surgawi
kita duduk istirahat melepas lelah
menyeka keringat yang tiada henti mengalir
menunggu apa yang mereka perbuat untuk kita
di tengan istirahat dan lelah belum terobati
keringat masih membasahi hati
tiba-tiba angina membawa aroma darah
kita tersentak apakah ini mimpi atau nyata
aroma darah itu nan jauh disana
kabar itu bukan dari mereka
kabar itu bukan dari media
tapi aroma darah itu sama aroma darah kita
darah saudara kita membasahi pertiwi
dimana mereka ? apa yang mereka perbuat
kita bertanya pada setiap orang
namun tiada jawaban
kita diam menanti jawaban
yang tak kunjung dating
dan kita masih diam menunggu
dalam diam kita bertanya
apakah kita harus membuat kursi kekuasaan lagi ?
sementara darah saudara kita selalu membasahi persada
pertanyaan dimana mereka ?
apa yang mereka perbuat ?
sangat melelahkan jiwa
kelelahan itu sampai terbawa tidur
dibelai sang mimpi kenyataan
dalam mimpi aroma darah membangunkan kita
setelah sadar ternyata aroma darah itu
bukan dalam mimpi
tapi di depan mata kita
dan di depan kehidupan kita
kita harus bertanya pada siapa
untuk mengobati gundah jiwa
pada mimpikah atau pada kenyataan
atau pada aroma darah yang melukai jiwa


















                                              KEMISKINAN SEORANG BOCAH


Bendungan, 2001


anak kecil duduk di pinggir jalan
umurnya belasan tahun
tiada biaya untuk sekolah
menjadi tukang semir sepatu
membantu kemiskinan orang tuanya
duduk diterpa teriknya matahari
menunggu pemilik sepatu datang
hari itu hatinya sangat rindu
bukan memegang semir sepatu
tapi memegang alat tulis dan buku
kapan kerinduan itu menjadi kenyataan
kapan biaya sekolah di tepi rembulan diraihnya
hari itu datanglah pemilik sepatu
senang hatinya hilanglah kerinduan sejenak
setelah menyemir kerinduan itu mengganggu mimpinya
hari berangkat menuju senja
anak kecil pulang dengan hasil di tangan
dalam perjalanan mimpi itu mengiringi langkahnya
rumahnya di pinggir sungai
terbuat dari papan dan kardus bekas
sekedar melepas lelah
memegang mimpi yang tak pernah tergapai
anak kecil tinggal bersama ibunya
bapaknya meninggal setahun yang lalu
sakit yang tidak mampu membeli obat kesehatan
makan hanya nasi lauk pauknya kelaparan
usai makan anak kecil duduk di pinggir jalan depan rumah
di depan rumahnya berdiri gedung mewah bertingkat
milik pengusaha kaya yang tidak pernah ditempati
katanya punya sepuluh rumah mewah dimana-mana
malam cerah tiada awan
langit diselimuti cahaya rembulan
pandangannya kosong menatap rembulan
benarkah biaya sekolah di tepi rembulan
kata hatinya
apabila benar dengan apa aku menggapainya
dengan mimpi atau dengan kemiskinan
mengapa anak-anak itu bisa menggapainya
walau biaya sekolah di tepi rembulan
setiap hari mereka melalui jalan depan rumahnya
semetara aku hanya menjamahnya lewat mimpi
kapan biaya sekolah di tepi rembulan menyentuh mimpiku
turun digenggaman tanganku
atau aku bermimpiterbang menggapai biaya itu
kerinduan anak kecil menggapai biaya sekolah
terbawa tidur lalu terbang dalam mimpi
dalam mimpi tangannya menggapai-gapai
biaya sekolah di tepi rembulan
berusaha menggapai namun tangannya tak menggapai juga
berusaha lagi tak tergapai lagi
dalam keleahan anak kecil duduk istirahat
menyeka keringat melepas lelah jiwa
kerinduan menggapai biaya sekolah di tepi rembulan
tapi tak tergapai juga
ini karena kemiskinan bocah atau tingginya rembulan
sang anak kelelahan menggapai rembulan
dalam mimpi anak terbangun
duduk di tepi tikar kardusnya
menggapai biaya sekolah tak tergapai juga
walau hanya dalam mimpi
bagaimana aku dapat menggapai biaya itu
dengan mimpikah atau dengan kerinduan
dalam putus asa sang bocah berkata
aku tercipta untuk bermimpi di negeri ini
mimpi yang tak pernah tergapai
walau dalam mimpi
sang anak tertidur lagi dan bermimpi lagi
menggapai biaya sekolah di tepi rembulan
begitu sangat kelelahan ingin menggapainya
namun tak pernah digapainya
sampai kapan sang bocah terus bermimpi
sampai kapan kelelahan itu meletihkan jiwa
sampai kapan biaya sekolah di tepi rembulan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar