Selasa, 20 Mei 2014

WEDANGAN DI HIK

                                                       WEDANGAN DI HIK

 Bendungan, Mei 2006

kepada saudaraku yang tercinta
baik penguasa dan pengusaha juga rakyat jelata
istirahatlah sebentar dari ketegangan
wedangan di hik kami di pinggir kehidupan
orang-orang seperti kalian biasa wedangan di hik kami
kami sadari akan ketinggian nalar kalian
kami tidak pernah mencium bangku kuliah
kami sekedar duduk pada altarhati nurani
kalian selalu membawa buku tebal kebanggaan
kami hanya membawabuku tebal rasa malu
teori sang dosen selalu kalian dengarkan
kami hanya mendengarkan suara hati nurani
setiap malam kami wedangan di hik kami
menggelar rasa dimabukkan anggur cinta
kami selalu mendengar ketinggian nalar kalian
sekarang dengarkan suara hati nurani kami
wedangan di hik kami di pingir kehidupan
tidak ada teori dosen tidak ada teori ilmiyah
contohlah negara kami negara kesederhanaan
mempunyai generasi yang hilang
generasi kami banyak menjadi bintang porno
setiap hari sampah bayi ditemukan
tiada duka tiada kesedihan
bahkan dalam kandungan bunda
sang bayi diharapkan kematiannya
siang malam club malam dimeriahkan
pesta pora setan disemarakan
generasi kami telah kehilangan nyawanya
walau nyawa masih di raga
kami kehilangan mereka
bangku-bangku sekolah ditinggalkan
kami tidak pernah merasa modern dengan itu
kami ditipu dengan kata modern oleh mereka
hari ini kami mendengar semangat kalian
mengakui ketinggian nalar kalian
istirahatlah sebentar dari ketegangan
wedangan di hik kami di pinggir kehidupan
melupakan ketinggian nalar mendengarkan hati nurani
kami adalah sahabat kalian hidup di sebelah negara kalian
sekedar dibatasi pagar bambu kehidupan
tapi kita tidak pernah bertemu untuk menyapa
ini karena ketinggian nalar kalian
atau tebalnya rasa malu kami
kami mengundang kalian untuk wedangan di hik kami
sekedar mendengarkan suara hati nurani
yang telah tenggelam dalam ketinggian nalar
tidak perlu paspor datang ke negara kami
kita adalah saudara kami negarasederhana
negara kami tidak mengenal terorisme
cukup langkahkan kaki hati kalian
akan bertemu kami pada altar hati nurani
wedangan di hik kami di pingir kehidupan
menggelar rasa dimabukan anggur cinta
begitu bangganya kami atas kehadiran kalian
kami tidak pernah bangga akan ketinggian nalar
orang-orang macam kalian di negara kami tidak didengar
kamitidak tahu apa sebabnya
kami tidak pernah kuliah atau kami malu akan hal itu
kamitunggu kehadiran kalian



Tidak ada komentar:

Posting Komentar